Arloji Seiko Prospex “Urban Safari”

Minggu ini, Seiko meluncurkan produk terbaru mereka yg masuk kedalam koleksi jam tangan diver Seiko Prospex dengan menciptakan 4 buah model baru Arloji Seiko Prospex “Urban Safari”. Model model jam tangan yg baru ini berperan sebagai penambahan kedalam koleksi Prospex Street Series tahun 2018, dan juga sebagai langkah pertama Seiko kedalam pasar fesyen streetwear, dan menawarkan sebuah rentang pilihan warna warni, estetika dan opsi mesin.

Seiko “Urban Safari” yg baru menyertakan dua model mekanikal analog, bersama dua model hibrida analog digital dengan tenaga surya. Setiap darinya menggunakan pengaruh desain dari model Seiko Tuna yg dirilis pada tahun 1975, lengkap dengan sasis besar bergaya tuna, cincin bezel putar yg tebal dan konfigurasi dial yg unik.

Kedua model dengan mesin mekanikal ditawarkan denggan opsi warna khaki dan hijau muda, keduanya dengan sasis utama berukuran diameter 43.22 mm, dibangun dari bahan baja bertekstur sikat berwarna gelap, dengan ketebalan 12.67 mm. Sama seperti “Tuna” pendahulunya, model model diatas dibekali kepala crown yg diletakkan di posisi jam 4, walau terlihat mencolok dengan kuping lug yg pendek. Mengelilingi dial, terdapat sebuah bezel putar pewaktuan selam 60 menit, dengan seperempat lingkaran pertamanya diwarnai dan kuarta ke 4 diberi warna hitam kontras. Dibawah kaca kristal Hardlex tampil muka dial matte, dengan marka marka penunjuk jam berlapis bahan luminous, dikelilingi oleh sebuah cincin lingkar luar untuk menit dengan sebuah segitiga dibagian atas dan sebuah jendela penanggalan dan hari di posisi jam 3. Dua buah jarum berbentuk persegi panjang dipakai sebagai penunjuk jam dan menit, sementara sebuah jarum dengan ujung segitiga berperan sebagai penunjuk detik berjalan.

Didalam kedua model analog ini tersemat mesin mekanikal otomatis Kaliber 4R36 yg berbekal kemampuan penyimpanan daya cadangan operasi selama 41 jam, dilindungi oleh sebuah penutup sasis belakang utuh yg turut berperan membantu daya ketahanan bawah air sampai kedalaman 200 meter. Sementara ini jauh sekali dari tingkat ketahanan sedalam 600 meter dari model Seiko “Tuna” awal , namun terbilang mumpuni untuk pengguna kasual.

Dua model berikutnya adalah model hibrida dengan tenaga surya. Kedua arloji ini tersedia dalam pilihan khaki atau hijau tua, walau versi khaki yg satu ini lebih banyak warna hitamnya secara keseluruhan, dengan warna khaki yg berperan sebagai aksen bila dibandingkan dengan versi analog mekanikal. Model model hibrida ini juga menggunakan sasis modern “Tuna”, walau sedikit lebih besar yakni 47.8 mm dan setebal 14.43 mm. Sasis utamanya juga berbeda dari pendahulunya yg kepala crownnya ditempatkan pada posisi jam 4, sebagai gantinya kepala crown ditempatkan diposisi jam 3 dengan dua buah tombol penekan disisi kiri untuk menyeimbangkan desainnya. Kedua model juga dibekali dengan cincin bezel putar pewaktuan selam 60 menit, walau tanpa tampilan dwiwarna 3:1.

Pada bagian muka dial ,tampak estetika yg mirip dengan versi mekanikal, dibedakan oleh sebuah tampilan layar LED yg diisi fitur kalender otomatis ,chronograph dan pengingat alarm, kesemua fungsi tersebut dioperasikan melalui tombol penekan di sisi kiri sasis. Jarum detik juga menggunakan sebuah desain yg lebih sederhana dengan salah satu ujungnya berbentuk bulat.

Didalam kedua model hibrida ini tersemat mesin Seiko Kaliber H851, yg tidak lain adalah mesin baterai  quartz yg dilengkapi mekanisme pengisian daya tenaga surya.

Setiap paket penjualan dari Arloji Seiko Prospex “Urban Safari” dilengkapi dengan sepasang tali jam karet silikon dengan warna yg senada. Model bermesin mekanikal dibandrol harga $580 dan model bermesin tenaga surya seharga $550 atau setara IDR 8,250,000, dan akan tersedia mulai bulan Mei tahun 2020 ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *